Selasa, 14 Januari 2014

Silent


Aku tertegun memandangmu. Kenapa kamu berubah padaku? Kamu dingin dan acuh terhadapku. Senyuman hangat dan perhatian yang dulu selalu kamu berikan padaku seakan hilang. Seperti debu yang tertiup angin. Apa salahku padamu hingga kamu tidak mau tahu lagi padaku? Dimana harus aku cari kehangatan yang hilang itu? Hatiku sakit saat mengingatmu yang dulu dan sekarang. Masihkah kamu ingat jika dahulu kita pernah menjalin cinta? Masihkah kamu ingat saat kita berbagi manis pahitnya kehidupan?  Dan ingatkah saat kamu selalu mengatakan bahwa kamu tidak akan pernah menjauh dariku? Dimanakah semua  itu? Dimana? Tanpa terasa “tamu tak diundang” meluncur jatuh dari pelupuk mataku. Dahulu dicinta, kini serasa diabaikan. Sakit, sakit sekali. Tapi, sekali lagi aku hanya bisa memandangmu.
* * *
Hari ini aku melihatmu di perpustakaan bersama seseorang. Kamu tersenyum, kamu bercanda, kamu hangat sekali padanya seperti mentari pagi yang menyentuh kulit. Kamu mengatakan ‘hati-hati ya’ saat dia beranjak meninggalkanmu. Kamu mengantarkan dia dengan pandanganmu hingga bayangannya hilang disembunyikan bangunan yang berbaris. Dadaku sesak melihatmu begitu dengan orang lain. Hatiku perih. Aku juga ingin kamu perlakukan begitu, aku ingin kamu tersenyum padaku, aku ingin kamu berkata lembut denganku, aku ingin merasakan kehangatanmu seperti yang kamu lakukan padanya. Dengarkan hatiku, dengarkan teriakan hatiku. AKU MENCINTAIMU. Aku mencintaimu, aku masih mencintaimu. Ku mohon, pandanglah aku. Aku sangat iri padanya. Aku iri padanya yang bisa mendapatkan semua itu darimu sayang. Ah, masih bolehkah aku memanggilmu sayang? Kembalilah padaku.
Aku mulai mencoba mendekati tempat dudukmu. Kamu masih focus membaca buku yang bersandar pada tanganmu. Buku itu berjudul Wuthering Heights. Buku novel romantic dan tragis yang sangat kamu sukai. Membacanya seribu kalipun tak akan membuatmu jenuh. Kamu selalu saja bercerita tentang kehidupan dendam dan cinta Heatcliff. Awalnya aku sebal dan bosan karena mendengarkanmu dengan kisah yang sama, tapi sekarang, aku kangen saat kamu membagi cerita denganku tentang perjalanan cinta Heatcliff dan Catherine. Aku tidak rela orang lain yang mendengarkannya, sungguh aku tidak rela. Pedih rasanya ketika melihatmu merasakan kenyamanan dengan orang lain dibandingkan denganku, meski sekarang aku bukan bagian dari hidupmu. Aku mulai duduk perlahan, memandangmu yang masih sibuk sendiri.
“Mmm, bagaimana kabarmu?” sapaku memberanikan diri. Kamu diam, acuh, tidak ada respon. Ah Tuhan, sakitnya. Sebegitu bencikah kamu padaku?.
‘Pluk’ sebuah foto terjatuh dari antara halaman novelmu. Aku berjongkok, berniat mengambil foto itu, tapi tanganmu lebih cepat. Aku melihat dua orang dalam foto itu dan aku terbelalak kaget dengan sosok yang ada. Itu kamu dan, aku mencoba menyipitkan mata hingga alisku bertaut. Kamu dan aku. Ada rasa senang yang menerobos masuk saat aku tahu ketika kamu masih “menyimpanku”. Kamu memandang foto itu lama dan ekspresimu berubah seketika. Kesedihan yang entah datang dari mana. Air matamu, tanpa permisi keluar begitu saja. Dengan lembut kamu menyekanya dan senyuman pahit terlukis dibibirmu. Kamu mulai mengeluarkan suara lirih, “Kamu adalah seseorang yang sangat jahat. Disaat aku sangat mencintaimu, kamu meninggalkan aku tanpa sepatah kata. Kamu meninggalkan aku tanpa pesan”  tiba-tiba kamu terdiam. Pandanganmu beralih pada jendela yang terbungkus langit mendung.
“Kamu baik-baik saja? Aku selalu berdoa agar kamu baik-baik saja disana bersama Tuhan yang mulia. Kamu adalah orang yang paling menjengkelkan dalam hidupku. Kamu membuka kehidupanku dan mengisinya dengan cinta yang indah hingga kamu pergi dengan membawa hatiku juga. Tak pernah kamu mengeluh tentang sakit yang ada pada dirimu hingga begitu saja kamu diamkan aku selamanya. Aku rindu kamu, aku sangat rindu kamu. Kepada siapa lagi aku harus bercerita dan membagi kisah hidupku? Tidak mudah menyesuaikan hariku tanpamu. Sulit bahagia tanpa kehadiranmu. Jika kamu mendengarku, aku hanya ingin mengatakan….aku sangat mencintaimu”
Aku menunduk mendengar bingkisan kata-katamu. Ternyata selama ini akulah yang menyakitimu, akulah yang meninggalkanmu, akulah yang selalu membuatmu menangis. Maafkan aku kasih, maafkan aku. Aku selalu ada disampingmu, menemanimu. Hanya kamu yang tidak menyadari hal itu. Aku mendekatkan bibirku pada telinganya dan berbisik lembut, “Aku juga sangat mencintaimu”.

Senin, 06 Januari 2014

Menatap Keheningan

Hening...
Aku menyapa waktu yang tak lelah berputar..
Penyesalan seketika memelukku erat..
Aku meringkuh dengan hati yang tak kunjung tenang..

Kamu tahu..
Ketika aku bersahabat dengan kebodohan yang aku lakukan..
Aku merasa tidak bisa melihat sinar mentari senja..
Setiap aku pulang kepada Tuhan dan mengadu..
Aku tak mendapatkan jawaban yang pasti..

Aku menepi sembari melengkukkan tanganku..
Aku meminta Tuhan mengembalikan awalku..
Namun aku tetap tak menemukan serpihan doaku..
Kini aku sungguh tak tahu harus bagaimana..

Hatiku bergelayut mengatakan aku kejam..
Iya..aku kejam telah mempermainkan cintamu yang tulus..
Tak kutemukan pendaran cahaya tawamu..
Yang aku temukan hanya sebuah kekosongan..
Aku menatap keheningan...

Minggu, 23 Juni 2013

PENGHIANATAN

Sebuah kata miris yang lahir dari kehidupan...
Dimana berawal dari rasa yang disebut kepercayaan...
Ketika hadir dalam bentuk malaikat dengan seribu kebaikan..
Beserta semerbak harum bunga lavender yang memabukkan..
Seketika pula perlahan membunuh empati..
Yang mulai bersinar seperti mentari pagi..

                             Apakah setiap manusia pernah dikhianati?
                             Tuhan juga sering merasakan dikhianati...
                             Oleh manusia-manusia durja yang tak mengenal terima kasih..
                             Tuhan hanya menyampaikan...
                             Balaslah mereka dengan kasih sayang yang tulus...

Keagungan kepercayaan yang ternoda..
Membuat setiap manusia takut untuk kembali ketempat semula..
Menjadikan butir air mata sebagai teman kala sepi..
Meringkuk mengingat kenangan yang kelam..
Menembus sebuah garis waktu yang telah berjalan..

                              Dalam sebuah takdir, aku berdoa...
                              Wahai Engkau pemilik setiap nafas...
                              Tumbuhkanlah benih-benih cinta yang telah mati..
                              Pada setiap taman jiwa sang pengkhianat hati...
                              Dan balutlah luka para ksatria yang setia.
                              

Selasa, 04 Desember 2012

Menunggu


Ketika aku bermain kerumah ibu. Kemudian ada teman lama yang mengunjungiku. Nostalgia yang aku tunggu, akhirnya terjadi juga.
“Bertambah makmur saja hidupmu, kamu sudah menikah?” tanya dia padaku. Aku spontan tersenyum sambil menggeleng.
“Kamu mungkin yang sudah menikah” balasku sedikit ingin tahu. Namun dia hanya tersenyum agak sedih. Rasa penasaranku semakin bertambah melihat ekspresi itu.
“Lho, kenapa? Bukankah kamu dulu sudah mempunyai soulmate?
“Iya, aku sedang menunggunya. Aku sedang menunggu dia” guratan sedih sangat terlihat diantara aura wajahnya.
“Menunggu? Orang itu yang pernah kamu ceritakan padaku?”
“Iya, dia. Aku menunggunya selama delapan tahun”
“Kenapa? Bukankah kamu cantik? Sukses? Kenapa harus menunggu orang itu? Cari saja yang lain. Bukankah cinta itu harus pasti?”
“Tapi aku mencintai dia”
“Ayolah, sampai kapan kamu harus menunggu orang itu?”
Dia memandang senja yang indah dengan tatapan sendu, “ Sampai dia datang. Entah sampai kapan, aku juga tidak tahu. Semua orang menyuruhku agar aku membuka hatiku untuk orang lain. Iya benar, itu adalah jalan agar aku bisa hidup lebih baik menurut mereka. Tapi aku? Tidak mudah aku lakukan. Sudah berulang kali aku berusaha membuka hatiku untuk mereka yang mencintaiku dengan tulus, tapi Tuhan belum mengijinkan aku untuk berpaling darinya. Aku merintih menahan kesendirian dan rindu. Aku teriris melihat kemesraan orang lain. Aku tersiksa menahan tuntutan orang sekitarku” sesaat dia terdiam, kemudian dia melanjutkan lagi “ Tapi yang aku tahu, hati dan cintaku ini milik Allah. Hidupku ini milik Allah. Aku tidak lain adalah wayang yang tidak bisa seenaknya dengan hatiku. Cinta, miris sekali aku membicarakannya. Kata orang, cinta itu buta, kata orang cinta itu membunuh logika. Tapi yang aku tahu, dengan cinta, orang bisa hidup. Dengan cinta, Allah menguji hambaNya. Dengan cinta juga seseorang mempelajari banyak hal tentang hidup. Dan dengan cinta, setan mencampuradukkan nafsu didalamnya. Yah…itulah kehidupan. Tapi aku selalu berpikir seperti ini, mungkin Allah tidak akan mencabut semua ini dari hatiku. Kamu tahu kenapa?” aku menggeleng agar dia melanjutkan argumennya.
“Karena Allah sangat sayang padaku. Dia ingin melindungiku dari orang-orang  yang dalam hatinya ada penyakit atau dari cinta yang salah. Allah sudah tahu siapa jodohku kelak. Dia hanya ingin agar cinta dan diriku tidak salah langkah. Dengan ini, Allah menjagaku walaupun bagiku sangat perih. Obat memang sangat pahit, tapi menyembuhkan. Jika pahit yang harus aku terima untuk kebahagiaanku kelak, sungguh aku rela. Aku serahkan hidup dan matiku untuk Dia yang tahu segalanya. Biarlah aku menunggu orang ini sampai batas waktu yang aku sendiri tidak tahu, agar aku memantaskan diriku untuk kebahagiaanku”
Aku hanya tersenyum mendengar pembicaraannya. Iya, benar, cinta dan hati ini milik Allah dan hanya Dia yang dapat mengubahnya. Dia yang mempunyai segalanya. Manusia tidak berhak men-judge orang lain karena tidak pantasnya cinta yang dia jatuhkan. Tapi itu adalah jalan Allah untuk hambaNya. Entah ujian atau apa, tapi yang aku tahu, Allah tidak pernah memberikan hal yang buruk untuk hambaNya.

Rabu, 28 November 2012

Kehilangan


Kehilangan..setiap orang pasti pernah mengalami kehilangan.
Bukan suatu hal yang baru namun tetap terasa pilu.

Kehilangan…adalah sesuatu hal yang sangat ditakutkan namun harus terjadi.

Setiap manusia menunggu mati.
Ada yang ikhlas juga tidak.
Tapi inilah hukum kehidupan…yang lama akan terganti yang baru.
Kehilangan mengajarkan arti keberadaan.
Adanya kehilangan adalah untuk menghargai setiap pertemuan.
Adanya kehilangan adalah untuk menghargai setiap kebersamaan.
Adanya kehilangan adalah untuk mengingatkan…betapa waktu itu cepat.
Banyak cerita inspiratif yang mengingatkan untuk menghargai seseorang sebelum kehilangan dia…dan benar saja…
Waktu terasa kejam..pertemuan terasa singkat..penesalan datang..
Tuhan yang Maha sempurna…seandainya esok aku harus kehilangan orang yang sangat aku sayang..
Ijinkanlah satu jam saja aku melihatnya tersenyum karena aku,,ijinkan aku menghangatkannya dengan kasih sayang yang aku punya…ijinkan aku meminta maaf atas segala kebodohanku…waktu..berhentilah satu menit..hanya untukku mengatakan…aku sayang kamu..
Tuhanku yang sangat agung…tidak ada yang tahu selain Engkau..
Betapa Engkau menyadarkan bahwa setiap hal adalah titipan…yang akan Kau ambil kembali…bahagiakan dia dalam dekapanmu Tuhan..Engkaulah sebaik-baik penjaga..

Jumat, 02 November 2012

Kado Untukmu

Kado Untukmu

Akan aku berikan sebuah kado untukmu..
Kado yang mungkin sudah sering kamu rasakan..
Kado yang mungkin sudah sering kamu terima..
Kado yang mungkin menurutmu tidak istimewa lagi..

Tapi...kado ini aku berikan dengan ketulusan..
Kado ini aku berikan dengan jutaan detik penantian..
Kado ini aku berikan dengan sengal nafas lantunan doa..
Kado ini aku berikan dengan melalui harapan akan Ridho-Nya..

Iya..kado ini adalah rasa cinta yang sudah Dia berikan..
Dia menyemayamkan rasa ini dalam hatiku dan hanya agar aku berikan untukmu..
Dia menjagaku dengan sebaik-baik penjaga..
Dia menyuruhku bersabar untuk menunggumu..

Dia menutup hatiku agar kau yang pertama kali menerima kado ini
Jika kau bertanya, apakah aku tidak menyesal?
Karena apa? Karena hatimu sudah banyak menjelajahi cinta?
Karena hatimu tidak suci? Karena kau banyak khilaf?
Tidak...sekali-kali tidak..
Karena Dia tidak mungkin salah memilih..
Percayalah...tulang rusuk tidak akan pernah tertukar..
Kamu..diantara trilliun orang,hati ini memilihmu dengan caraNya yang indah..