Aku tertegun memandangmu. Kenapa kamu berubah
padaku? Kamu dingin dan acuh terhadapku. Senyuman hangat dan perhatian yang
dulu selalu kamu berikan padaku seakan hilang. Seperti debu yang tertiup angin.
Apa salahku padamu hingga kamu tidak mau tahu lagi padaku? Dimana harus aku
cari kehangatan yang hilang itu? Hatiku sakit saat mengingatmu yang dulu dan
sekarang. Masihkah kamu ingat jika dahulu kita pernah menjalin cinta? Masihkah
kamu ingat saat kita berbagi manis pahitnya kehidupan? Dan ingatkah saat kamu selalu mengatakan
bahwa kamu tidak akan pernah menjauh dariku? Dimanakah semua itu? Dimana? Tanpa terasa “tamu tak diundang”
meluncur jatuh dari pelupuk mataku. Dahulu dicinta, kini serasa diabaikan.
Sakit, sakit sekali. Tapi, sekali lagi aku hanya bisa memandangmu.
* * *
Hari ini aku melihatmu di perpustakaan bersama
seseorang. Kamu tersenyum, kamu bercanda, kamu hangat sekali padanya seperti
mentari pagi yang menyentuh kulit. Kamu mengatakan ‘hati-hati ya’ saat dia
beranjak meninggalkanmu. Kamu mengantarkan dia dengan pandanganmu hingga
bayangannya hilang disembunyikan bangunan yang berbaris. Dadaku sesak melihatmu
begitu dengan orang lain. Hatiku perih. Aku juga ingin kamu perlakukan begitu,
aku ingin kamu tersenyum padaku, aku ingin kamu berkata lembut denganku, aku ingin
merasakan kehangatanmu seperti yang kamu lakukan padanya. Dengarkan hatiku,
dengarkan teriakan hatiku. AKU MENCINTAIMU. Aku mencintaimu, aku masih
mencintaimu. Ku mohon, pandanglah aku. Aku sangat iri padanya. Aku iri padanya
yang bisa mendapatkan semua itu darimu sayang. Ah, masih bolehkah aku memanggilmu
sayang? Kembalilah padaku.
Aku mulai mencoba mendekati tempat dudukmu. Kamu
masih focus membaca buku yang bersandar pada tanganmu. Buku itu berjudul Wuthering
Heights. Buku novel romantic dan tragis yang sangat kamu sukai. Membacanya
seribu kalipun tak akan membuatmu jenuh. Kamu selalu saja bercerita tentang
kehidupan dendam dan cinta Heatcliff. Awalnya aku sebal dan bosan karena
mendengarkanmu dengan kisah yang sama, tapi sekarang, aku kangen saat kamu
membagi cerita denganku tentang perjalanan cinta Heatcliff dan Catherine. Aku
tidak rela orang lain yang mendengarkannya, sungguh aku tidak rela. Pedih
rasanya ketika melihatmu merasakan kenyamanan dengan orang lain dibandingkan denganku,
meski sekarang aku bukan bagian dari hidupmu. Aku mulai duduk perlahan, memandangmu
yang masih sibuk sendiri.
“Mmm, bagaimana kabarmu?” sapaku memberanikan
diri. Kamu diam, acuh, tidak ada respon. Ah Tuhan, sakitnya. Sebegitu bencikah
kamu padaku?.
‘Pluk’ sebuah foto terjatuh dari antara halaman
novelmu. Aku berjongkok, berniat mengambil foto itu, tapi tanganmu lebih cepat.
Aku melihat dua orang dalam foto itu dan aku terbelalak kaget dengan sosok yang
ada. Itu kamu dan, aku mencoba menyipitkan mata hingga alisku bertaut. Kamu dan
aku. Ada rasa senang yang menerobos masuk saat aku tahu ketika kamu masih
“menyimpanku”. Kamu memandang foto itu lama dan ekspresimu berubah seketika.
Kesedihan yang entah datang dari mana. Air matamu, tanpa permisi keluar begitu
saja. Dengan lembut kamu menyekanya dan senyuman pahit terlukis dibibirmu. Kamu
mulai mengeluarkan suara lirih, “Kamu adalah seseorang yang sangat jahat.
Disaat aku sangat mencintaimu, kamu meninggalkan aku tanpa sepatah kata. Kamu
meninggalkan aku tanpa pesan” tiba-tiba
kamu terdiam. Pandanganmu beralih pada jendela yang terbungkus langit mendung.
“Kamu baik-baik saja? Aku selalu berdoa agar kamu
baik-baik saja disana bersama Tuhan yang mulia. Kamu adalah orang yang paling
menjengkelkan dalam hidupku. Kamu membuka kehidupanku dan mengisinya dengan
cinta yang indah hingga kamu pergi dengan membawa hatiku juga. Tak pernah kamu
mengeluh tentang sakit yang ada pada dirimu hingga begitu saja kamu diamkan aku
selamanya. Aku rindu kamu, aku sangat rindu kamu. Kepada siapa lagi aku harus
bercerita dan membagi kisah hidupku? Tidak mudah menyesuaikan hariku tanpamu. Sulit
bahagia tanpa kehadiranmu. Jika kamu mendengarku, aku hanya ingin mengatakan….aku
sangat mencintaimu”
Aku menunduk mendengar bingkisan kata-katamu. Ternyata
selama ini akulah yang menyakitimu, akulah yang meninggalkanmu, akulah yang
selalu membuatmu menangis. Maafkan aku kasih, maafkan aku. Aku selalu ada
disampingmu, menemanimu. Hanya kamu yang tidak menyadari hal itu. Aku
mendekatkan bibirku pada telinganya dan berbisik lembut, “Aku juga sangat
mencintaimu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar