Selasa, 04 Desember 2012

Menunggu


Ketika aku bermain kerumah ibu. Kemudian ada teman lama yang mengunjungiku. Nostalgia yang aku tunggu, akhirnya terjadi juga.
“Bertambah makmur saja hidupmu, kamu sudah menikah?” tanya dia padaku. Aku spontan tersenyum sambil menggeleng.
“Kamu mungkin yang sudah menikah” balasku sedikit ingin tahu. Namun dia hanya tersenyum agak sedih. Rasa penasaranku semakin bertambah melihat ekspresi itu.
“Lho, kenapa? Bukankah kamu dulu sudah mempunyai soulmate?
“Iya, aku sedang menunggunya. Aku sedang menunggu dia” guratan sedih sangat terlihat diantara aura wajahnya.
“Menunggu? Orang itu yang pernah kamu ceritakan padaku?”
“Iya, dia. Aku menunggunya selama delapan tahun”
“Kenapa? Bukankah kamu cantik? Sukses? Kenapa harus menunggu orang itu? Cari saja yang lain. Bukankah cinta itu harus pasti?”
“Tapi aku mencintai dia”
“Ayolah, sampai kapan kamu harus menunggu orang itu?”
Dia memandang senja yang indah dengan tatapan sendu, “ Sampai dia datang. Entah sampai kapan, aku juga tidak tahu. Semua orang menyuruhku agar aku membuka hatiku untuk orang lain. Iya benar, itu adalah jalan agar aku bisa hidup lebih baik menurut mereka. Tapi aku? Tidak mudah aku lakukan. Sudah berulang kali aku berusaha membuka hatiku untuk mereka yang mencintaiku dengan tulus, tapi Tuhan belum mengijinkan aku untuk berpaling darinya. Aku merintih menahan kesendirian dan rindu. Aku teriris melihat kemesraan orang lain. Aku tersiksa menahan tuntutan orang sekitarku” sesaat dia terdiam, kemudian dia melanjutkan lagi “ Tapi yang aku tahu, hati dan cintaku ini milik Allah. Hidupku ini milik Allah. Aku tidak lain adalah wayang yang tidak bisa seenaknya dengan hatiku. Cinta, miris sekali aku membicarakannya. Kata orang, cinta itu buta, kata orang cinta itu membunuh logika. Tapi yang aku tahu, dengan cinta, orang bisa hidup. Dengan cinta, Allah menguji hambaNya. Dengan cinta juga seseorang mempelajari banyak hal tentang hidup. Dan dengan cinta, setan mencampuradukkan nafsu didalamnya. Yah…itulah kehidupan. Tapi aku selalu berpikir seperti ini, mungkin Allah tidak akan mencabut semua ini dari hatiku. Kamu tahu kenapa?” aku menggeleng agar dia melanjutkan argumennya.
“Karena Allah sangat sayang padaku. Dia ingin melindungiku dari orang-orang  yang dalam hatinya ada penyakit atau dari cinta yang salah. Allah sudah tahu siapa jodohku kelak. Dia hanya ingin agar cinta dan diriku tidak salah langkah. Dengan ini, Allah menjagaku walaupun bagiku sangat perih. Obat memang sangat pahit, tapi menyembuhkan. Jika pahit yang harus aku terima untuk kebahagiaanku kelak, sungguh aku rela. Aku serahkan hidup dan matiku untuk Dia yang tahu segalanya. Biarlah aku menunggu orang ini sampai batas waktu yang aku sendiri tidak tahu, agar aku memantaskan diriku untuk kebahagiaanku”
Aku hanya tersenyum mendengar pembicaraannya. Iya, benar, cinta dan hati ini milik Allah dan hanya Dia yang dapat mengubahnya. Dia yang mempunyai segalanya. Manusia tidak berhak men-judge orang lain karena tidak pantasnya cinta yang dia jatuhkan. Tapi itu adalah jalan Allah untuk hambaNya. Entah ujian atau apa, tapi yang aku tahu, Allah tidak pernah memberikan hal yang buruk untuk hambaNya.