Ketika
aku bermain kerumah ibu. Kemudian ada teman lama yang mengunjungiku. Nostalgia
yang aku tunggu, akhirnya terjadi juga.
“Bertambah
makmur saja hidupmu, kamu sudah menikah?” tanya dia padaku. Aku spontan
tersenyum sambil menggeleng.
“Kamu
mungkin yang sudah menikah” balasku sedikit ingin tahu. Namun dia hanya
tersenyum agak sedih. Rasa penasaranku semakin bertambah melihat ekspresi itu.
“Lho,
kenapa? Bukankah kamu dulu sudah mempunyai soulmate?”
“Iya,
aku sedang menunggunya. Aku sedang menunggu dia” guratan sedih sangat terlihat
diantara aura wajahnya.
“Menunggu?
Orang itu yang pernah kamu ceritakan padaku?”
“Iya,
dia. Aku menunggunya selama delapan tahun”
“Kenapa?
Bukankah kamu cantik? Sukses? Kenapa harus menunggu orang itu? Cari saja yang
lain. Bukankah cinta itu harus pasti?”
“Tapi
aku mencintai dia”
“Ayolah,
sampai kapan kamu harus menunggu orang itu?”
Dia
memandang senja yang indah dengan tatapan sendu, “ Sampai dia datang. Entah
sampai kapan, aku juga tidak tahu. Semua orang menyuruhku agar aku membuka
hatiku untuk orang lain. Iya benar, itu adalah jalan agar aku bisa hidup lebih
baik menurut mereka. Tapi aku? Tidak mudah aku lakukan. Sudah berulang kali aku
berusaha membuka hatiku untuk mereka yang mencintaiku dengan tulus, tapi Tuhan
belum mengijinkan aku untuk berpaling darinya. Aku merintih menahan kesendirian
dan rindu. Aku teriris melihat kemesraan orang lain. Aku tersiksa menahan
tuntutan orang sekitarku” sesaat dia terdiam, kemudian dia melanjutkan lagi “
Tapi yang aku tahu, hati dan cintaku ini milik Allah. Hidupku ini milik
Allah. Aku tidak lain adalah wayang yang tidak bisa seenaknya dengan hatiku.
Cinta, miris sekali aku membicarakannya. Kata orang, cinta itu buta, kata orang
cinta itu membunuh logika. Tapi yang aku tahu, dengan cinta, orang bisa hidup.
Dengan cinta, Allah menguji hambaNya. Dengan cinta juga seseorang mempelajari
banyak hal tentang hidup. Dan dengan cinta, setan mencampuradukkan nafsu
didalamnya. Yah…itulah kehidupan. Tapi aku selalu berpikir seperti ini, mungkin
Allah tidak akan mencabut semua ini dari hatiku. Kamu tahu kenapa?” aku
menggeleng agar dia melanjutkan argumennya.
“Karena
Allah sangat sayang padaku. Dia ingin melindungiku dari orang-orang yang
dalam hatinya ada penyakit atau dari cinta yang salah. Allah sudah tahu siapa
jodohku kelak. Dia hanya ingin agar cinta dan diriku tidak salah langkah.
Dengan ini, Allah menjagaku walaupun bagiku sangat perih. Obat memang sangat
pahit, tapi menyembuhkan. Jika pahit yang harus aku terima untuk kebahagiaanku
kelak, sungguh aku rela. Aku serahkan hidup dan matiku untuk Dia yang tahu
segalanya. Biarlah aku menunggu orang ini sampai batas waktu yang aku sendiri
tidak tahu, agar aku memantaskan diriku untuk kebahagiaanku”
Aku
hanya tersenyum mendengar pembicaraannya. Iya, benar, cinta dan hati ini milik
Allah dan hanya Dia yang dapat mengubahnya. Dia yang mempunyai segalanya.
Manusia tidak berhak men-judge orang lain karena tidak pantasnya cinta yang dia
jatuhkan. Tapi itu adalah jalan Allah untuk hambaNya. Entah ujian atau apa,
tapi yang aku tahu, Allah tidak pernah memberikan hal yang buruk untuk hambaNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar